Semarang, Jawa Tengah – Bagi Agnes Oktavi Maharani, bisnis bukan sekadar tentang meraih keuntungan, tetapi juga cara menjaga warisan keluarga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Alumni S-1 Kesehatan Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) itu memulai perjalanannya dari langkah sederhana, yakni membantu sang nenek yang dahulu berjualan jamu keliling di kawasan Semarang.
Sejak kecil, Agnes telah terbiasa melihat proses peracikan jamu tradisional dengan aroma rempah yang khas. Baginya, jamu bukan hanya minuman herbal, melainkan bagian dari cerita keluarga yang sarat nilai perjuangan. Keinginan untuk mempertahankan usaha tersebut semakin kuat ketika ia menyadari potensi jamu tradisional untuk dikembangkan dengan sentuhan inovasi.
Momentum perubahan datang saat Agnes mengikuti Program Kegiatan Berwirausaha Mahasiswa Indonesia (KBMI) ketika masih berstatus mahasiswa. Melalui program tersebut, ia berhasil memperoleh pendanaan yang menjadi titik awal transformasi ‘Jamu Bu Ranti’.
“Awalnya saya hanya ingin membantu nenek supaya jamunya tetap ada dan dikenal. Tapi setelah ikut program kewirausahaan di kampus, saya jadi terpikir untuk mengembangkan lebih serius dan profesional,” ujar Agnes.
Ia mulai melakukan pembaruan dari berbagai sisi. Logo dan identitas merek diperbarui agar lebih menarik, kemasan dibuat lebih modern dan higienis, serta sistem produksi ditata ulang supaya memenuhi standar kebersihan yang lebih baik. Tak hanya itu, Agnes juga menghadirkan varian baru seperti rosella dan sereh telang untuk menjangkau selera generasi muda tanpa meninggalkan cita rasa khas rempah yang kuat.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Agnes harus berhadapan dengan persaingan ketat, baik dari jamu legendaris yang telah lama memiliki pelanggan setia maupun produk minuman herbal modern dengan konsep kekinian.
“Persaingan pasti ada. Tapi kami tetap menjaga kualitas. Jamu kami kental, alami tanpa pengawet, dan tetap mempertahankan resep keluarga. Itu yang menjadi ciri khas kami,” jelasnya.
Menurutnya, kunci bertahan adalah konsistensi dan keberanian berinovasi tanpa menghilangkan identitas tradisional.
Strategi Digital Dongkrak Omzet Puluhan Juta
Selain pembaruan produk, Agnes juga menerapkan berbagai strategi bisnis untuk memperluas pasar. Ia menjaga konsistensi harga agar tetap terjangkau oleh semua kalangan, mulai dari pekerja hingga mahasiswa. Di sisi lain, ia aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan edukasi tentang manfaat jamu bagi kesehatan.
Untuk memperkuat branding, Jamu Bu Ranti beberapa kali menggandeng food vlogger Semarang guna menjangkau audiens yang lebih luas. Agnes juga menjalin kemitraan dengan pelaku kuliner lokal, salah satunya Soto Blora 59 Gor Jatidiri, sehingga produknya semakin dikenal masyarakat.
Tak berhenti di situ, Jamu Bu Ranti kini telah merambah platform digital seperti GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood. Kehadiran di layanan pesan antar tersebut memudahkan konsumen untuk menikmati jamu tradisional tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Berkat inovasi dan konsistensi tersebut, usaha yang dulunya hanya berawal dari jamu gendong kini mampu mencatatkan omzet puluhan juta rupiah per bulan. Menariknya, pelanggan Jamu Bu Ranti tidak hanya berasal dari kalangan orang tua, tetapi juga generasi muda yang mulai sadar akan pentingnya gaya hidup sehat.
Agnes berharap, langkahnya dapat menginspirasi mahasiswa dan alumni lain untuk berani mengembangkan potensi usaha lokal. Ia meyakini, dengan pendekatan yang tepat, produk tradisional dapat bersaing di pasar modern.
“Saya ingin membuktikan bahwa jamu bukan minuman kuno. Dengan inovasi yang tepat, warisan keluarga bisa naik kelas dan tetap relevan di era sekarang,” pungkasnya.
—————————————————————————————————————————————————————
| Nama Produk | : | Jamu Bu Ranti |
| Nama Owner | : | Agnes Oktavi Maharani |
| Jenis Usaha | : | Makanan & Minuman |
| Tahun Berdiri | : | – |
| : | @jamuburanti |











