Semangat kewirausahaan terus ditanamkan kepada generasi muda melalui kegiatan Konsolidasi Nasional Pesta Wirausaha Nasional (PWN) 2026 yang diselenggarakan oleh Komunitas Tangan Di Atas (TDA) bersama Lembaga Kewirausahaan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Mengusung tema “To Next Level”, kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan penting untuk membawa PWN 2026 menjadi lebih besar, solid, dan berdampak bagi para pelaku usaha di Indonesia.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pengusaha dan praktisi bisnis untuk berbagi pengalaman nyata dalam membangun usaha, mulai dari menghadapi kegagalan hingga beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Kegiatan itu diadakan di Aula Gedung E lantai 3 Udinus dan diikuti 200 mahasiswa serta beberapa tenant wirausaha muda yang ada di Udinus.
Kepala Lembaga Kewirausahaan Udinus, Dr. Nila Tristiarini, S.E., M.Si., CSRA menegaskan bahwa kegiatan seperti PWN sangat penting bagi mahasiswa untuk membangun mental dan wawasan kewirausahaan sejak dini. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan teori di dalam kelas, tetapi juga pengalaman langsung dari para pelaku usaha. Ia juga menambahkan bahwa semangat kewirausahaan harus dibangun dengan keberanian mencoba dan terus belajar dari kegagalan.
“Melalui PWN 2026 ini mahasiswa dapat belajar bahwa menjadi wirausaha membutuhkan keberanian, konsistensi, dan semangat pantang menyerah. Kami berharap mahasiswa mampu mengambil inspirasi dari pengalaman para entrepreneur,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa semangat kewirausahaan harus dibangun dengan keberanian mencoba dan terus belajar dari kegagalan. “Kesuksesan tidak datang secara instan. Dibutuhkan proses, kerja keras, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tambahnya.
Belajar dari Perjalanan Pengusaha
Ketua TDA Jawa Tengah sekaligus Owner BK Group, Rahmad Budianto, membagikan perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku sebelum akhirnya menjadi pengusaha. Ia mengaku sempat bercita-cita menjadi dokter, namun gagal lolos dan akhirnya menempuh pendidikan di Teknik Kimia. Rahmad menilai banyak anak muda memiliki mimpi besar, namun belum mengetahui cara dan ekosistem yang tepat untuk mewujudkannya.
“Anak muda harus realistis bahwa peluang kerja semakin ketat. Karena itu penting punya opsi dan keberanian membangun usaha sendiri. Jangan hanya punya usaha, tetapi usaha itu harus bisa berkembang dan menghasilkan,” ungkapnya.
Rahmad juga menekankan pentingnya mentor dalam perjalanan bisnis seseorang. Menurutnya, keberhasilannya berkembang dari omzet jutaan hingga puluhan juta rupiah tidak lepas dari bimbingan mentor dan komunitas seperti TDA.
Sementara itu, Ketua TDA Semarang sekaligus Owner dan CEO Konova Group, Eko Novianto, menyoroti pentingnya adaptasi teknologi AI dalam dunia bisnis saat ini. Ia menyebut AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan kebutuhan masa sekarang.
“Sekarang semua berubah dengan AI. Dunia bisnis juga berubah sangat cepat. Anak muda harus mulai belajar memanfaatkan teknologi digital dan AI agar mampu bersaing dan menciptakan peluang usaha baru,” jelasnya.
Eko turut membagikan pengalamannya membangun bisnis berbasis AI yang mampu mengolah puluhan ribu data bisnis lokal di Indonesia. Menurutnya, kreativitas dan kemampuan memanfaatkan teknologi akan menjadi kunci keberhasilan entrepreneur masa depan.











